Gerard Mosterd

Gerard MosterdLahir pada tahun 1964 dari orangtua Belanda-Indonesia di Amersfoort, Belanda. Ketika ia berumur delapan tahun ia sering berimprovisasi dengan gerakan berkecepatan lambat seperti ritual gerak-gerik "serimpi" sebelum masuk ke Royal Conservatory di Den Haag. Setelah menyelesaikan belajar balet klasik, tari-tarian rakyat, tarian kontemporer dan musik selama sembilan tahun dia memulai sebelas tahun karirnya sebagai penari dengan perusahaan-perusahaan internasional seperti London Festival Ballet, Basel Ballet, Concordanse Paris, Royal Ballet of Flanders dan Hwa Kang Dance di Taipei.

Dicalonkan sebagai asisten pengarah artistik Ulmer Ballet di Jerman di mana Tai Chi adalah bagian latihannya setiap hari dan sebagai pengajar tamu di beberapa lembaga di Eropa. Bekerja sebagai seorang penari dengan koreografer-koreografer orisinil seperti Mats Ek, Christopher Bruce, Michael Clark, Siobhan Davies, Lindsay Kemp. Ia memulai produksi tariannya sendiri pada tahun 1996 berpusat pada situasi orang-orang eropa-asia di Belanda. Meskipun terpesona dengan tarian-tarian Indonesia, dia berusaha keras untuk tidak menyalin bentuk seni tradisional yang sangat dihormati ini dengan meleburkan elemen-elemennya ke dalam satu kosakata teater tari kontemporernya sendiri dan sekaligus juga menghormati kualitas improvisasi tipikal Indonesia.

Ia menghadirkan tari modern di perayaan tahunan Pasar Malam Besar di Den Haag pada tahun 1999 dan selama enam tahun selalu tampil di perayaan tersebut setiap tahunnya. Pada tahun 2002 ia menciptakan duet tari modern dengan musik Kroncong pertama dan terus menerus menambahkan elemen-elemen yang inovatif dalam karya-karyanya seperti penggunaan gamelan elektronik. Karya-karyanya telah meningkat dengan konsep yang kuat dan terinspirasi oleh elemen-elemen otobiografi seperti sastra dan pengembangan kontemporer. Setiap tahun dia melakukan tur untuk karyanya di Belanda. "Luminescent Twilight" (2002), "Please Let Me See Your Face" (2003), "Stretching Time" (2004) and "Kebon" (2004) telah dipertunjukan di Indonesia. Maret 2005 "Angin" telah beberapa kali dipertunjukan di Singapura atas dukungan The Arts House dan pada tahun yang sama karya berkelompoknya "Game" dibawakan oleh mahasiswa dari Lasalle SIA di Singapura. Pada musim semi 2005, dua dari karyanya, pertunjukan solo "Angin" dan karya berkelompok "Kamu/Jij" mengelilingi Kuala Lumpur, Jawa dan Bali. Frekuesi dan skala dari tur-tur di Asia Tenggara yang dikombinasikan dengan beberapa pelatihan-pelatihan merupakan sebuah awal baru dan mempunyai nilai khusus yang bersejarah.

Gerard menulis sebagai wartawan paruh waktu pada pertunjukan seni Belanda-Indonesia untuk majalah Moesson, yang didistribusikan di Belanda, Kanada, Australia dan Amerika Serikat. Ia adalah seorang anggota terpilih dari Dewan Tari Internasional UNESCO.

Academi Tari Royal di Den Haag

Gerard tamatan Akademi Tari Royal di Den Haag di bawah arahan Marian Sarstädt; Royal Conservatory dan menari selama dua tahun (85-87) dengan Royal Ballet Flanders yang diarahkan oleh Valèri Panov, sebagai penari tamu dan pengajar di Republik Cina di Hwa Kang-Dance Company (Yang Min Shan Chinese Culture University, Taipei).

Pada awal tahun 1987 dia menari selama lima musim dengan London Festival Ballet (yang kemudian menjadi English National Ballet) (87-02) di bawah arahan Peter Schaufuss, kemudian di bawah arahan Ivan Nàgy dimana selama waktu itu dia melakukan tur di teater-teater seperti misalnya di The Metropolitan Opera House. Rekaman awal dari video/film Makarova’s Swan Lake. Menari di Paris dengan Concordanse di bawah pimpinan Francine Richard (kontemporer dan neoklasik repertoir) (92-93). Menari pada tahun 94 dengan Basel Ballet di bawah arahan Youri Vamòs. Secara berturut-turut ikutserta dengan Ulmer Ballet sebagai penari, asisten-pengarah dan asisten ahli balet/koreografi untuk Qu Ping seorang koreografer dari Cina. Latihan Tai Chi setiap hari. Sebagai pengajar tamu dengan Luzern Ballet dan Heinz Bosl Stiftung di Munich. Gerard mempunyai kesempatan sebagai seorang penari untuk bekerja dengan para pembuat teater yang terkenal dan orisinil seperti Lindsay Kemp, Christopher Bruce, Siobhan Davies, Michael Clark, Mats Ek, Kim Brandstrup dan menampilkan karya yang dibuat oleh bermacam-macam koreografer klasik dan neo klasik.

Kembali ke Belanda setelah 11 tahun untuk terlibat langsung dengan menjadi seorang penari paruh waktu untuk produksi tari yang independen. Belajar tari Jepang. Sejak tahun 2001 ia telah bekerja di kota kelahirannya Amersfoort.

2000 Sampai Sekarang

Belajar dan melakukan perjalanan untuk pekerjaannya ke Indonesia. Berkenalan dengan Martinus Miroto dan kemudian Bagong Kussudjardja di Yogyakarta, prof. Sardono Kusumo di Jakarta dan Solo, koreografer-koreografer Gugum Gumbira dan Endo Suanda di Bandung, koreografer Sumatra Boi Sakti dan Farida Oetoyo di Jakarta, Ulf Gadd dan Kadek Suardana in Denpasar. Berhubungan dengan ASK di Kuala Lumpur dan LaSalle, Institut Seni Singapura di Singapura.

Tur-tur Indonesia dikombinasikan dengan pelatihan-pelatihan pada musim semi 2002 and 2003, direalisasikan dengan bantuan finansial dan logistik dari Kedutaan Belanda di Jakarta, the Dutch National Council for the Arts (FAPK), HIVOS Internationalisation Fund, Erasmushuis, International Festival Gedung Kesenian, Teater Utan Kayu, Jakarta, Festival Cak Durasim Surabaya, Teater Socitet, Karta Pustaka dan Teater Garasi, Yogyakarta, STSI di Bandung, Solo dan Denpasar, Arti Foundation Denpasar, Mata Angin Productions, TARI Indonesia, Yayasan Sumber Cipta, Bureau Kunst Educatie, Theater De Lieve Vrouw dan the Municipality of Amersfoort.

Kolaborasi reguler dengan komposer Kanada Paul Goodman yang telah bekerja di Indonesia dengan koreografer dan penari asal Jawa Miroto.

Gerard Mosterd mengajar di institut-institut berikut ini: Institut Kesenian Jakarta, Sumber Cipta, Namarina, IPPB, EKI, Jakarta, STSI Bandung, ISI, Teater Garasi, Yogyakarta, Sono Seni Solo, STSI, Sekolah Marinatari, Bu Wied Sendayani, ASKI, Solo, EEKA, dan beberapa institut di Surabaya, STSI, Denpasar dan La Salle Institute of the Performing Arts, Singapura. Selain mengajar dan membuat produksi tari Gerard menulis sebagai seorang jurnalis paruh waktu yang menitikberatkan pada pertunjukan seni Indonesia dan Eurasiatic dalam majalah independen Belanda-Indonesia Moesson, yang didistribusikan Belanda, Australia, New Zealand, Amerika Serikan and Kanada. Sejak bulan September 2004 Gerard anggota penuh terpilih dari Dewan Tari Internasional UNESCO (CID).