logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 September 2005 BUDAYA
Line

Gerard Mosterd Membawa ''Angin'' ke Solo

TIBA-tiba lampu padam. Di tengah kegelapan muncul sosok pria tinggi besar dan plontos. Di bawah sorot lampu, lelaki tegap itu bergerak dan terus bergerak di atas panggung. Bagaikan diterpa angin, tubuhnya begitu lentur mengikuti irama musik dan sorot lampu.

Gerakan elastis selama 30 menit itu baru terhenti setelah seluruh lampu di dalam tempat pertunjukan menyala terang. Penonton pun memberi aplaus panjang.

Itulah tarian berjudul ''Angin'' yang dibawakan Ming Wei Poon seorang diri. Koreografi karya koreografer kondang Gerard Mosterd itu, Minggu (18/9) malam lalu, dipentaskan di gedung Teater Besar STSI, Surakarta.

Ada dua karya yang ditampilkan di gedung yang dipadati pengunjung itu. Selain ''Angin'', pria kelahiran 1964 keturunan Indonesia-Belanda itu juga menyuguhkan tari yang berjudul ''Kamu/Jij.''

Boleh jadi, masyarakat awam sulit memahami pesan yang disampaikan Gerard Mosterd kepada para penonton, jika tidak membaca sipnosis. Apalagi tarian kedua, ''Kamu/Jij'', yang nilainya jauh lebih dalam dibanding tarian pertama. ''Kamu/Jij'' yang dibawakan lima penari, yakni Ming Wei Poon, Wendel Spier, Thao Nyuyen, Loes Ruizeveld, dan Ederson Rodriguez sanggup ''menyihir'' penonton sehingga tak beranjak dari tempat duduk selama satu jam.

Ambiguitas Seksual

Gerard Mosterd yang menyelesaikan studi balet klasik, tari rakyat, serta tari dan musik kontenporer di Royal Conservatory di Den Haag Belanda, mencoba memadukan budaya Eropa dan Asia yang banyak bertolak belakang dalam setiap karya koreografinya.

Dia yang sempat bergabung dengan grup tari internasional seperti London Festival Ballet, Basel Ballet, Royal Ballet of Flanders, dan Hwa Kang Dance di Taipei telah mengimprovisasikan gerak lambat tari ''serimpi'' dalam modern dance karyanya.

''Kamu/Jij'' yang merupakan interpretasi ambiguitas seksual masyarakat diinspirasi dari sebuah naskah kolonial abad ke-19, ''The Hidden Power'' oleh Louis Couperus.

''Dia (Gerard Mosterd) mengimprovisasikan ambiguitas itu dalam bentuk koreografi secara sempurna,'' kata salah seorang pengunjung usai pertunjukan.

Koreografi karya Gerard Mosterd yang dipentaskan di gedung Teater Besar STSI, Surakarta, malam itu merupakan bagian dari tur dunia yang disponsori Erasmus Huis. (Langgeng Widodo-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA