Koran Tempo On Line
 
     
     
     

 

 

 


Daftar Isi


Front Page

nasional

Ekonomi dan Bisnis

Nusa

Internasional

Ilmu dan Teknologi

Budaya

Opini

olahraga

Metropolitan

Kamis, 9 September 2004


Sketsa Surealis Gerard Mosterd

Beberapa sekolah balet yang tergabung dalam Ikatan Pengajar dan Pelatih Balet menggelar pertunjukan tari balet dari yang klasik hingga kontemporer. Gerard Mosterd, maestro koreografi asal Belanda, menjadi bintang tamu.

Setiap orang punya kebebasan untuk menafsirkan sesuatu. Tak ada kekuatan apa pun yang bisa mengendalikan pikiran manusia merdeka. Penafsiran menjadi sesuatu kekuatan "kemerdekaan" dalam melahirkan karya seni. Ajakan itulah yang coba dilakukan oleh Gerard Mosterd, koreografer asal Belanda, lewat komposisi tari berjudul Kebon yang ditampilkan dalam pentas tari balet Ikatan Pengajar dan Pelatih Balet (IPPB) di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Senin (6/9) malam.

Karya Kebon, yang berarti harfiah tanah luas yang ditanami tumbuhan dan pohon, adalah bentuk sketsa surealis Gerard yang bercerita tentang kebun lewat tata gerak yang ditingkahi pencahayaan dan musik yang cantik. "Garden ada di mana-mana dan bisa berarti apa pun. Kindergarden, kebun raya, atau tafsiran apa pun," Gerard menandaskan. Atas nama "kemerdekaan" dan "kebebasan" itu tadi, "kebon" yang satu ini diracik Gerard bak sajian "gado-gado".

Gerard memadukan semangat gaya gerak ilmu pencak silat ala Indonesia dengan speed tarian gubahan dari Eropa. Racikan Timur-Barat memang menjadi ciri khas Gerard dalam mengekspresikan karya tarian. Ada Luminescent Twilight, karya cemerlangnya yang sukses dipentaskan di Jawa dan Bali, dua tahun lalu. Sementara itu, Juni 2004, Gerard mencuri perhatian penonton "Indonesian Dance Festival Ke-7" di Jakarta, lewat karya berjudul Stretching Time. Inilah duet konseptual tentang fenomena jam karet yang menjadi salah satu budaya masyarakat Indonesia. "Karya saya bukan sekadar gerakan olah tubuh, tetapi juga kekuatan dan semangat dari gerakan itu sendiri," dia menandaskan.

Istirahat 25 menit
Tujuh belas penari amatir dari berbagai tempat kursus atau sekolah tari balet di Jakarta menghidupi ide "kebebasan" Gerard. Jangan artikan secara naif bahwa Kebon bercerita tentang gerak tari orang berkebun, bertani, atau bercocok tanam. Komposisi tari ini ingin mengajak orang untuk membuka pikiran dan melapangkan hati untuk lupa akan segala yang terjadi dalam waktu 25 menit saja. Seperti kebun luas, lapang, dan menyejukkan orang yang akan singgah untuk sekadar berteduh. "Saya ingin saat tarian ini disaksikan, penonton mengistirahatkan pikiran dan melupakan segala sesuatu yang dirasakan selama 25 menit saja. Mereka hanya perlu menikmati hiburan tarian ini," papar penari dan koreografer berdarah Belanda-Indonesia ini.

Kebon menjadi tantangan tersendiri buat lulusan Royal Conservatory Den Haag ini. Tak mudah mengerahkan para amatir untuk berlatih dalam tempo waktu singkat, begitu kata Gerard. Dalam waktu kurang dari dua pekan, Gerard mendapat tantangan dari IPPB yang diketuai oleh Sunny T.S. Pranata, untuk menggubah sebuah koreografi tari dalam sajian pementasan puncak acara "Festival Budaya Jakarta 2004". Lahirlah Kebon yang merupakan sajian tari kontemporer milik Gerard yang menyajikan kelenturan seorang penari balet dan gerakan spiritual yang dicuplik dari khazanah gerak tari Jawa.

Maestro tari yang berpengalaman bergabung dengan grup tari internasional di Eropa ini tertantang untuk menangani para amatir. Hasilnya cukup menawan. "Saya puas dengan sajian mereka," kata anggota terpilih UNESCO International Dance ini. Bagi Gerard, Kebon menjadi ajang pembuktian bahwa dirinya bukan hanya bisa bekerja sama dengan para penari profesional, tapi juga kaum amatir di Tanah Air. Maestro bergabung dengan amatir. Lewat sajian ini pula, Gerard menggandeng pemusik asal Sumatera Barat, Syahrial, yang dikenalnya lewat sesama rekan koreografer, Boy G. Sakti. Musik karya Syahrial cukup ilustratif membingkai gerak dan tari Gerard.

Penari amatir
Kebon bukan satu-satunya sajian tari yang ditampilkan malam itu. Ada 10 koreografi lainnya yang ditampilkan berbagai sekolah tari balet yang tergabung dalam Ikatan Pengajar dan Pelatih Balet. Rata-rata koreografi tari pendek berdurasi tak lebih dari enam menit. Ada yang berkemas sajian balet klasik, kontemporer, dan beberapa gaya Spanish dan jazz. Sebut saja Sailor Dance dari Pluit Ballet School, Colors of Life dari Vidyarani Ballet Studio, Waltz Dream dari Caritas Ballet, dan Butterfly yang ditarikan oleh Cicilia Ballet.

Hampir semua koreografi ini dimainkan oleh penari muda usia dan remaja amatir. "Kami ingin ajang ini juga menjadi sarana tampil para penari muda," ujar Sunny T. Sistyawati, Ketua Umum IPPB. Kumpulan sekolah tari di Jakarta yang tergabung dalam IPPB dibentuk pada 1980 oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Awalnya, institusi ini diketuai oleh Nanny Lubis, pendiri sekolah tari Namarina Dance. Pada 1998, IPPB dikukuhkan oleh Gubernur DKI di Gedung Kesenian Jakarta sebagai wadah kesenian tari balet di bawah naungan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Tari balet mulai dikenal di Tanah Air pada 1950 dengan dibukanya sekolah tari balet Puck Meyer. Perkembangannya makin pesat saat The Jakarta Ballet School didirikan pada 1957 oleh Elsie Tjiok San Fang. Sekolah itu kemudian berubah nama menjadi Nritya Sundara di bawah pimpinan Farida Oetojo dan Julianti Parani. Salah satu tujuan IPPB menyelenggarakan pentas di TIM ini untuk lebih memasyarakatkan karya koreografi tari balet klasik maupun kontemporer. "Tidak salah kalau kami mengundang Gerard Mosterd untuk menyumbang karya kotemporernya," ujar Sunny di Jakarta, beberapa waktu lalu. telni rusmitantri

 
Search

   Help

Berita lainnya

BI Lelang SBI Enam Bulan - 23 Apr 2008 | 18:58 WIB
Kerusakan Mesin Diduga Jadi Penyebab Pendaratan Darurat Helikopter di Gianyar - 23 Apr 2008 | 18:40 WIB
Kantor Partai GAM Terbakar - 23 Apr 2008 | 18:07 WIB
Persik Kediri Dapat Sponsor Rp 1,8 Miliar - 23 Apr 2008 | 18:03 WIB
Kapolda Riau Siap Periksa Bupati - 23 Apr 2008 | 17:58 WIB
Agum dan Nu?man Terima Kekalahan - 23 Apr 2008 | 17:58 WIB
Kesal Dipalak, Pengamen Bunuh Preman - 23 Apr 2008 | 17:52 WIB
Enam Orang Terluka Akibat Ledakan Bom - 23 Apr 2008 | 17:45 WIB
Sulawesi Selatan Ajukan Izin Ekspor Beras - 23 Apr 2008 | 17:38 WIB
Pemerintah Naikkan Target Konversi Minyak Tanah ke Elpiji - 23 Apr 2008 | 17:06 WIB
>

index berita


 
 
@ korantempo