Rabu, 08 September 2004

S E N I   &   H I B U R A N

No.  4798

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 Gerard Mosterd ”Berkebun” di Panggung Tari
 

JAKARTA – Kebun adalah tempat pepohonan dan bunga-bunga tumbuh dan hewan-hewan kecil berkumpul. Selama ini, kita hanya tahu kebun dalam bentuk fisik. Namun, bagaimana jika kebun diwujudkan dalam sebuah gerak tubuh?

Gerard Mosterd, koreografi asal Belanda, menciptakan komposisi gerak yang terinspirasi dari sebuah kebun. Para penari membuat gerakan yang menghasilkan kesan tertentu, mulai dari tangan yang menekuk dan berjalan terbungkuk. Mereka membentuk unggas berupa ayam atau burung. Atau, mereka menggeliat dan berjalan ”dengan perut” mirip liukan cacing (atau ulat). Tiga penari yang bergerak dengan mengangkat tangan tinggi dan tubuh yang meliuk semacam pohon yang bergerak ditiup angin, hingga pemain yang menggapai serupa gerakan tangan orang berenang, mengesankan seekor ikan.
Gerard memang kerap menghasilkan gerakan-gerakan multi-makna seperti itu. Dengan membubuhkan tema untuk ”penyempitan” aura sajiannya, penari mengeksplorasi tak hanya dalam pola formasi dan gerak, tapi juga memberikan gerakan simbolik untuk makna. Seperti ketika dia membuat simbol gerak jam pada nomornya terdahulu berjudul ”Stretching Time” yang dipagelarkan di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki pertengahan Juli lalu. Kini, di tempat yang sama (7/9), Gerard menampilkan lagi nomor koreografinya yang lain, bertajuk ”Kebun”.
Kebun adalah sketsa sebuah taman, yang diinterpretasi dalam bentuk gerakan tari di atas panggung. Di luar simbol itu, gerak para penari yang ditampilkan juga sangat harmonis dan berbeda, walau Gerard sangat trampil dengan gerak-gerak manis.
Perbedaan yang paling mendasar dalam nomor tari ini adalah bahwa para penarinya adalah penari-penari Indonesia. Musiknya digarap oleh David Sylvian, David Cunningham dan Yoshiaki Ochi.
Selain ingin mempertemukan wacana Asia dan Barat terutama dalam gerak, Gerard berangkat dari konsep bahwa untuk mendapatkan orisinalitas dan profesionalitas, penari sehari-hari – yang tak profesional sekalipun – tetap memungkinkan. Inilah hasilnya: ”Kebun”.
Ada hal yang menarik di dalam pagelaran tari balet ini, yaitu bahwa sebuah koreografi akan menarik dengan konsep-konsep yang tak bisa dilepaskan dalam sebuah pertunjukan. Seperti Gerard pernah katakan kepada SH, bahwa penampilan gerak tarinya punya penanda sendiri termasuk untuk struktur pertunjukan. Dasar tari balet atau bahkan tradisi adalah elemen dasar, dan harus dicari orisinalitas si koreografer untuk pertunjukannya. Adanya inovasi. Gerard juga bicara tentang konsep seorang koreografer, misalnya saja bagaimana menampilkan sketsa sebuah kebun di dalam gerak, pertunjukan tari ”Kebun”-nya, atau bicara kelenturan waktu dan pemahaman manusia pada ruang untuk menjelaskan sebuah eksistensi dan interaksi yang harus dilakukan pada nomornya yang terdahulu, ”Stretching Time”.

Balet Klasik dan Koreografi
Komposisi ”Kebun”-nya Gerard ini ditampilkan setelah di tengah permainan tari Balet Klasik oleh kelompok balet di Indonesia antara lain Pluit Ballet School, Sanggar Pelangi Sunrise, Gracia Ballet, Lucy Ballet School, Caritas Ballet, Vidyarani Ballet Studio, Genecela Dance Centre, Cicilia Ballet, Ratna Ballet School dan Namarina Ballet School.
Acara yang di tengah momen penutupan Festival Budaya Jakarta – 2004 Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta ini, diselenggarakan oleh Ikatan Pengajar dan Pelatihan Ballet (IPPB). Dengan tajuk besar acara ”Ballet Innovation” setidaknya ”dituntut” inovasi dari tiap koreografer pada setiap nomor tarian yang ada.
Sekalipun dengan pengertian bahwa kelompok tari ini lebih mengutamakan pendidikan, dalam sajiannya, tetap saja koreografi merupakan faktor penting. Sayangnya, di beberapa nomor sajian, tiap kelompok balet ini memang sangat menekankan unsur tari klasik dengan pola gerakannya yang ”pakem” atau ”mainstream”.
Bahkan, untuk formasi atau pun gerak simbolik atau pun menghadirkan narasi untuk pencapaian keunikan, univasi dan orisinalitas tampaknya masih perlu dilakukan. Apalagi, kelompok balet ini membuat tajuk pada setiap nomornya. Misalnya saja ”Waltz Dream” (oleh kelompok Caritas Ballet), ”Catching Butterfly” (kelompok Gracia Ballet), ”Colors of Life” (oleh kelompok Vidyarani Ballet Studio) dan ”Sailor Dance” (oleh Pluit Ballet School).
Misalnya saja, Catching Butterfly oleh Gracia Ballet sangat menampilkan narasi dari pola gerakan tarinya, di mana sebagian penari membawa ”kertas mirip kupu-kupu”, dan penari lainnya membawa perangkap jala. Di tengah gerakan balet klasik, ada formasi tertentu dicipta oleh koreografer Susan Juwono untuk kesan suasana penangkapan kupu-kupu itu. Untuk gerakan yang lincah, tari balet kontemporer ditampilkan oleh Edmund Gaerlan dari Genecela Dance Teater dengan tema ”Sssss...sss..ssst!!!”, yang adegan terakhirnya menarik ketika membuat ”ssst” di depan penonton dengan mimik dan ekspresi lucu.
Ada juga Yanti Jayusman dari Cicilia Ballet yang antara penarinya interaktif dengan mengusung penari lainnya, namun di adegan akhir dengan dua penari diam, dan terkesan mendadak dalam posisi penarinya. Namarina Dance Company lewat koreografer Dinar Karina, khas dengan gerakannya yang enerjik dan sangat terampil, dengan nomor ”Spanish Concerto”. Sepuluh penari membuat formasi yang interaktif dan kompak menguasai ruangan panggung, gerak para penari sangat lincah dengan formasinya. sangat termasuk dengan menggerakkan gaunnya sebagaimana sebuah ”Spanish Concerto”. Menarik melihat fenomena dalam pertunjukan ini, semata-mata bukan untuk membandingkan nomor-nomor tari balet yang dipergelarkan oleh kelompok tari balet ini dengan pertunjukan Gerard Mosterd. Namun, kesan tentang betapa pentingnya konsep dan inovasi gerak di dalam sebuah koreografi pertunjukan, dalam konteks ini terutama untuk pertunjukan tari balet, itu lebih penting.
(SH/sihar ramses simatupang)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003