Koran Tempo On Line
 
     
     
     

 

 

 


Daftar Isi


Front Page

Budaya

Ekonomi dan Bisnis

Gaya Hidup

Ilmu dan Teknologi

Internasional

Metropolitan

Nasional

Nusantara

Olahraga

Opini

Rabu, 2 Oktober 2002

Pentas Tari Gerard Mosterd
Perbedaan yang Melahirkan Gerak

JAKARTA -- Bertemunya budaya-budaya yang berbeda merupakan lahan yang tak pernah habis digali dalam peristiwa budaya. Di wilayah seni pertunjukan saja, cukup banyak tema sejenis ini yang diangkat. Taruhlah seperti yang dilakukan koreografer tari terkenal Julie Taymour yang meminjam idiom-idiom wayang dalam pementasan Lion King di Broadway atau duet penari Jepang, Osamu Jareo dan Misako Terada, yang mengangkat pernikahan beda budaya di atas panggung dalam Indonesian Dance Festival bulan lalu.

Tema itu pula yang diangkat koreografer tari asal Belanda, Gerard Mosterd. Dia mengetengahkan tema perbedaan budaya yang dialaminya secara pribadi ke atas panggung. Mengangkat judul Luminescent Twilight, karya yang memadukan gerak dan cahaya itu ditampilkannya dengan tingkat kesempurnaan yang patut dipuji di Gedung Kesenian Jakarta, 28-29 September, sekaligus menutup rangkaian Gedung Kesenian Jakarta International Festival 2002.

Sebagai manusia yang terlahir dari ayah berbangsa Belanda dan ibu Indonesia, Gerard mengangkat perbedaan budaya yang dipenuhi tegangan-tegangan yang muncul secara tiba-tiba. "Saya mengalami sendiri bagaimana benturan-benturan budaya terjadi di antara kedua orangtua saya. Saya berada di tengah-tengah keadaan itu terutama ketika akhirnya mereka bercerai. Kendati akhir itu tak menyenangkan, tapi saya ingin mengungkapkan dalam karya saya bahwa pasti ada jalan, entah apa caranya, untuk menyelesaikan masalah tersebut," ujarnya pada Koran Tempo seusai pementasan hari pertama.

Pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan itu tidaklah diangkatnya mentah-mentah. Ia melakukan pendekatan artistik yang memadukan konsep gerak, musik, dan tata panggung. Secara menarik pula, Gerard memposisikan cahaya sebagai unsur penting yang memiliki bahasa sendiri. "Gelap dan terang merupakan cerminan yin dan yang," ujarnya.

Ia juga menempatkan musik dengan sentuhan Jawa sebagai pembuka pertunjukan. Sebuah alat gamelan diletakkan di sebelah kiri panggung. Penabuhnya, Niels Walen, memainkan nada-nada tak lazim yang dipadu dengan musik elektronik rancangan Paul Goodman.

Tari dibuka dengan masuknya Teck Voon Ng ke tengah panggung. Cahaya minimalis yang membentuk ruang bulat menyorotinya. Ia melakukan gerakan yang cenderung lambat. Tubuh, terutama tangannya, acap melakukan gerakan seperti menangkap udara, merasakannya, dan mengalirkannya. Dalam medan ruang yang bulat itu, Teck bergerak secara bertingkat mengikuti putaran ruang. Dia tampak sangat intens dan sadar-ruang.

Saat dia bergerak itu, tiba-tiba melintas sesosok bayangan yang berlari cepat ke kiri dan kanan panggung. Tanpa suara, bayangan itu hilir mudik di belakang Teck tapi seperti terseret dan berusaha keras menghentikan laju gerakan dengan kakinya setiap tiba di pinggir panggung. Sampai akhirnya ia tiba di sisi kanan panggung, tepat di saat lampu menerangi posisinya yang tiba-tiba berhenti mendadak. Panggung pun berganti hanya untuk Ester Natzijl.

Gerakan penari perempuan asal Belanda ini sangat berbeda dengan Teck yang pelan dan lembut. Ester melakukan gerakan yang serba terstruktur yang menguat dengan suara detak jam. Ia berdiri tegak dan kokoh, tangan kanannya membentuk siku secara horisontal dan bergerak terpatah-patah membentuk garis lurus seiring suara jam.

Penegasan karakter budaya dalam gerak memang sering menempatkan gerakan lambat untuk mewakili Timur dan gerakan cepat dan dinamis sebagai cerminan budaya Barat. Di sini Gerard tak memberikan suatu pandangan baru, tapi dia lebih menempatkan lambat dan cepat itu hanya pada intensitas dan frekuensi, bukan pada bentuk gerak itu sendiri.

Kendati ia banyak mempelajari tarian daerah Timur seperti Jawa dan Cina, pemuda kelahiran Amersfoort ini tak terjebak untuk langsung meniru bahasa gerak dari daerah-daerah tersebut. Ia lebih menampilkan esensi atau spirit dari gaya atau ciri khas dari sebuah tradisi gerak. Latar belakangnya sebagai penari modern di jurusan tari Royal Conservatory di Belanda di bawah pimpinan Marian Sarstadt mungkin turut ambil bagian dalam proses kreatifnya untuk mencipta gerakan yang sangat padat arti dan orisinil. Misalnya gerakan berjongkok secara tiba-tiba setelah lelah menandak-nandak atau cara beringsut Ester yang dilakukan dengan tengkurap dan kedua tangan di belakang, sehingga tampak seperti seekor ulat yang melata.

Setelah lama bergerak secara terpisah-pisah dalam dunia cahaya, kedua penari akhirnya bertemu, tapi hanya sesaat mereka saling bergumul. Selebihnya, mereka mengeksplorasi sebuah dinding dari kertas yang membiaskan sebentuk bayangan, hasil dari sorotan lampu yang dinyalakan dari belakang panggung. Terlihat sekali bagaimana Gerard meminjam idiom wayang kulit dan dinding kertas rumah Jepang dalam pemakaian dinding sebagai metafor sebuah keterpisahan budaya.

Secara provokatif, teck kemudian merobek dinding itu, lalu melangkah memasuki "dunia" Ester. Mereka bertemu dan bergerak bersama dalam iringan musik keroncong Moresko. Ketika musik berhenti, mereka pun berpisah begitu saja dan tiba-tiba. Perpisahan itu sangat menyakitkan, tapi itulah realitas yang dihadirkan Gerard Mosterd di atas panggung yang kebetulan juga dialaminya di luar panggung. Tapi, seperti keyakinannya, pasti akan ada jalan keluar untuk sebuah perbedaan. f dewi ria utari

 
Search

   Help

Berita lainnya

BI Lelang SBI Enam Bulan - 23 Apr 2008 | 18:58 WIB
Kerusakan Mesin Diduga Jadi Penyebab Pendaratan Darurat Helikopter di Gianyar - 23 Apr 2008 | 18:40 WIB
Kantor Partai GAM Terbakar - 23 Apr 2008 | 18:07 WIB
Persik Kediri Dapat Sponsor Rp 1,8 Miliar - 23 Apr 2008 | 18:03 WIB
Kapolda Riau Siap Periksa Bupati - 23 Apr 2008 | 17:58 WIB
Agum dan Nu?man Terima Kekalahan - 23 Apr 2008 | 17:58 WIB
Kesal Dipalak, Pengamen Bunuh Preman - 23 Apr 2008 | 17:52 WIB
Enam Orang Terluka Akibat Ledakan Bom - 23 Apr 2008 | 17:45 WIB
Sulawesi Selatan Ajukan Izin Ekspor Beras - 23 Apr 2008 | 17:38 WIB
Pemerintah Naikkan Target Konversi Minyak Tanah ke Elpiji - 23 Apr 2008 | 17:06 WIB
>

index berita


 
 
@ korantempo