Selasa, 1 Oktober 2002

S E N I   &   H I B U R A N

No.  4227

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

”Luminescent Twilight”
Bersatunya Timur dan Barat dalam Eksplorasi Gerak Tari 

Jakarta, Sinar Harapan
Dua penari dari kutub berbeda, Ester Natzijl mewakili Barat dan Wei-Meng Poon mewakili Timur bersenyawa di atas panggung Gedung Kesenian Jakarta selama dua hari berturut-turut 28 dan 29 September lalu. Gerak-gerak tari yang diciptakan koreografer asal Belanda, Gerard Mosterd, dan diberi judul Luminescent Twilight ini diterjemahkan dengan indah oleh keduanya.
Baik Ester maupun Wei-Meng mempertunjukkan gerakan-gerakan yang sangat jelas perbedaannya. Gerak yang lembut dengan lentik jemari pada Wei (yang disebut juga Tek Ng Vong) memperlihatkan gerak dari tarian timur. Sementara itu, Ester mengeksplorasi ekspresi dan keseluruhan gerak tubuh yang berpatahan, mulai dari tangan hingga pinggul, bahkan gerak kakinya. Gerakannya menyimbolkan peradaban Barat pada tarian-tariannya.
Sejak awal pergelaran, keduanya menari tunggal secara bergantian. Dengan terus menari, keduanya tetap tidak saling bersinggungan. Respons hanya terjadi ketika mereka saling berganti muncul di panggung atau keduanya bergerak gemulai pada ujung-ujung panggung. Baru menjelang akhir pertunjukan, keduanya kemudian bergerak dan bermain di antara lampu dan layar kertas.
Pada saat keduanya terpisah oleh layar itulah, terjadi gerak-gerak yang memikat. Baik pada gerak gemulai Wei atau gerak berpatahan dan ekspresif dari Ester—keduanya muncul atau menghilang menjadi siluet di balik layar kertas—tetapi keduanya terus berdialog.
Di ujung tegangan gerak tubuh dan gerak bayang atau siluet di layar itulah, Wei merobek kertas pemisah itu. Sementara itu, Ester takjub tetapi tetap dengan gaya dan gerakan tarinya yang khas, mengeksplorasi gerak tubuh hingga meregang dan melar kaku. Juga ekspresi tubuhnya yang terkadang seram dan memunculkan mimik lucu. Seakan trance dan menggeliat, kontras sekali dengan gerak gemulai si pria baik pada tubuh dan tangannya meliuk bagai spiral, keindahan eksotika timur bermain dalam bayang-bayang transparan.
Pada awal dan tengah pertunjukan memang ada dua gerakan dominan dari Ester yang sangat menarik perhatian. Pertama, gerak seolah tangan, kaki dan tubuhnya menerima sebuah benda kecil yang bergerak dan mengganggunnya. Yang sempat ”masuk” ke tubuhnya sehingga kejang dan akhirnya Ester melepaskannya terbang.
Menurut sang penari, itu adalah semacam cara untuk menikmati tariannya dan sesuatu yang jenaka sekaligus menggairahkan buat para penonton. Gerak kedua berupa tangan yang berirama ”menjelma jarum jam”. Tangan Ester seolah sebuah jam apalagi diiring musik yang berdetak. ”Itu merupakan simbol tentang barat yang sangat terpacu pada waktu,” ujarnya.
Keduanya memang sangat berbeda. Namun, akhirnya, keduanya saling bertautan. Walau tidak menyatu sepenuhnya dengan memperlihatkan tubuh yang saling berdekapan, mereka bisa bergerak di atas panggung, tangan dan tubuh bergerak disertai dengan ritme yang tak tentu sehingga terkadang penari menjauh dan mendekat. Menariknya, saat dimunculkan musik keroncong, keduanya sempat seiring dalam gerakan. Keduanya tetap menghasilkan pertautan, walau mulanya gamang dengan kebersamaan.

Belajar
Menurut Ester, sejak awal dia memang telah memakai gerak tersebut untuk memperlihatkan simbol tertentu. Dia juga mengaku itulah gerak yang selama ini diketahuinya. Tarian kontemporer memang menjadi dasar Ester.
Untuk gerak gemulai pada jari yang diperlihatkannya menjelang akhir pertunjukan, Ester mengaku baru mempelajari dari majalah dan televisi. ”Seperti ini, saya sudah tahu dari bacaan dan tontonan,” ujarnya, memperlihatkan wajah dan mata bergerak serta tangan bergemulai ala penari Bali.
Wei, yang menghabiskan satu bulan untuk bisa berkolaborasi dengan Ester ini mengatakan bahwa dia merasa senang dalam interaksi gerak pada tarian dengan basis yang berbeda ini. Penari pria yang berasal dari Malaysia itu mengatakan bahwa pada dasarnya tema yang di atas merupakan bahasa lain dari fenomena kegamangan budaya barat dan timur yang seolah kontras tetapi sesungguhnya tetap menghasilkan dialog yang bisa saling berkaitan.

Tertarik
Gerard Mosterd, sang koreografer, yang lahir dan besar di kota Amsterfoort dan mengalir ”sedikit” darah timur ini, menyukai durasi antara terang dan gelap. Misteri dan pesona dunia timur pun dicarinya pada gerak dan tarian. Dibantu pemusik gamelan Niels Walen dan komposer Paul Goodman, Gerard mewujudkan kecintaannya itu.
Gerard melahirkan banyak karya tari kontemporer yang lahir dari dua sisi kebudayaan yang bertolak belakang sehingga menimbulkan ketegangan dan salah persepsi. Namun, saat gerakan itu disajikan dapat tertangkap percakapan dan sebuah pertemuan dari dua kebudayaan itu.
Setelah berkarier sebagai penari pada event-event berskala internasional, dia akhirnya memfokuskan dirinya pada perkembangan produksi tari yang menggabungkan konsep tari Barat dan Timur untuk seni tari dan teater. Penari ini kini menetap di Indonesia dan bekerja sama dengan para musisi dan koreografer dalam setiap pergelaran. (srs) 

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2002