SUARA PEMBARUAN DAILY

Misteri Surga yang Hilang

Bundo Kanduang itu jamuan bisu. Kebisuan itu mengindikasikan terjadinya suatu ketegangan atau konflik. Tapi sini, jamuan bisu itu ada yang harmoni dan disharmoni. Ketika jamuan bisu itu menjadi disharmoni, surganya tidak ada. Surga masih ada di bawah telapak kaki ibu ketika wanita masih memegang nilai-nilai bundo kanduang itu. (Boi Gumarang Sakti)

foto-foto:SP/Alex Suban

Karya tari kolaborasi Boi Gumarang Sakti dan Gerard Mosterd (Belanda) bertajuk "Bundo Kanduang/The Paradise" dipentaskan dalam rangkaian Festival Schouwburg VI di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (5/9).

Surga di bawah telapak kaki ibu. Begitulah bunyi peribahasa dulu. Baru-baru ini, ada banyak cerita tentang kekejaman ibu menyiksa anaknya. Untuk ibu-ibu yang meninggalkan peran dan tanggung jawab, masihkah peribahasa itu berlaku?

Misteri surga yang hilang. Itulah refleksi kegusaran Boi Gumarang Sakti yang disampaikan lewat koreografi berjudul Bundo Kanduang : Jamuan Bisu. Koreografer kondang asal Sumatera Barat ini mementaskan karyanya di Festival Schouwburg, Gedung Kesenian Jakarta, pada 5-6 September lalu.

Boi tidak sendirian. Tema perempuan itu juga diresapi Gerard Mosterd, koreografer berdarah Indonesia-Belanda yang menyuguhkan Para_dise ..a Woman? Kolaborasi mereka mengusik kembali ingatan tentang mitologi seputar perempuan. Di panggung, tafsir kutub Barat dan Timur pun berpadu.

Bertolak dari akar Minangkabau yang kuat, Boi melebur situasi kekinian. Fenomena masyarakat telah mengalami pergeseran. Secara kontemplatif, dia mempertanyakan kembali metafora "surga di bawah telapak kaki ibu". Realitas saat ini justru sebaliknya. Berita di media massa : ada banyak ibu meninggalkan keluarga, ibu menyiksa dan menelantarkan anak atau bahkan membunuh anaknya sendiri. Kelak cerita-cerita itulah yang kemudian melahirkan koreografi.

"Bundo Kanduang itu jamuan bisu. Kebisuan itu mengindikasikan terjadinya suatu ketegangan atau konflik. Tapi sini, jamuan bisu itu ada yang harmoni dan disharmoni. Ketika jamuan bisu itu menjadi disharmoni, surganya tidak ada. Surga masih ada di bawah telapak kaki ibu ketika wanita masih memegang nilai-nilai bundo kanduang itu," papar Boi.

Di atas pentas, Boi menyuguhkan koreografi yang minimalis. Meskipun menampilkan tujuh penari, panggung tak banyak memuat properti. Dia seolah menitikberatkan esensi pesan. Artistik panggung bukan materi yang diandalkan. Koreografi ini tentu sangat berbeda dengan Di Jalan Tua yang artifisial atau Siti Nurbaya.

Sejumlah penari berkeliling di seputar meja kecil. Boi menyebutnya sebagai pesta jamuan makan. Salah seorang penari perempuan mengangkat kakinya ke atas. Di saat yang sama, penari pria tampak seolah olah sedang mencari sesuatu. Menciumnya. Sejenak, terbersit wajah kecewa. Pada bagian lain, penari pria mencabuti hiasan kepala "Suntiang" yang dikenakan penari perempuan.

"Kaki dicium itu metafora surga yang hilang. Bukan hanya Minangkabau, dalam kalangan Islam pun, orang percaya, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Pertanyaan itu muncul setelah saya melihat realita sekarang," papar Boi.

Boi menolak jika ikon Bundo Kanduang dipersepsikan sebagai ratu pad azaman dulu. Dalam persepsi Boi, Bundo Kanduang adalah perempuan dewasa yang sudah cukup matang. Memiliki kearifan dan bijaksana dan bisa memikul tanggung jawab. Sosok itu juga dapat memikul tanggung jawab pribadi dan kaumnya.

Alhasil "tanggung jawab" dan beban hidup perempuan disimbolisasikan dengan suntiang yang menghiasi kepala penari. Boi berangkat dari satu pertanyaan. "Apakah suntiang itu terlampau berat untuk dipikul?" . Pertanyaan itu sekaligus juga merefleksikan kondisi sosial saat peran ibu mengalami krisis moral. Fenomena kekinian itulah yang ditangkap dalam tari kontemporer Boi.

Pergulatan antara pria dan wanita untuk mencapai posisi teratas tertuang dalam koreografi Gerard. Dengan gerak lentur dan kaku yang berselang-seling, dimainkan dua penari, pria dan wanita menyiratkan pergulatan dominasi antara pria dan wanita yang tidak pernah usai.

Sebagai bentuk kolaborasi, Boi dan Gerard tampak "berbagi" wilayah. Jika Boi menggarap tafsir perempuan dalam pandangan horizontal, Gerard bermain di wilayah vertikal. Hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa dan persaingan gender menjadi titik tolak pementasan ini.

"Mungkin saja dalam masa prasejarah, wanita yang berkuasa dan dominan. Itulah saya hadirkan pertanyaan, evolusi kita vertikal dan horisontal. Horisontal itu merupakan otak pria dan vertikal itu intuisi. Berbeda dengan pria," ujar Gerard.

Sekilas kolaborasi ini memang menyatukan dua karakter Boi dan Gerad yang berbeda. Tetapi jika lebih cermat, penonton tentu dapat mengenali. Elemen-elemen Boi yang kental dengan simbolisasi dan unsur gerak pencak silat. Ada juga pasir putih yang dimasukkan dalam ceret.

"Penyatuan vertikal dan horisontal itu adalah lingkaran untuk menghadirkan dunia baru. Atau harapan baru. Ceret itu filosofinya adalah mengisi, begitu juga peran wanita. Kontribusinya terhadap kehidupan sangat luar biasa. Seperti kata pepatah, dia memberi tak mengharap kembali," tutur Boi.

Pada koregrafi Bundo Kanduang ini, dia tak ragu mengusungnya kembali. Sementara Gerard lebih mengandalkan teknik dan komposisi multimedia. Namun sayang, dibanding pementasan sebelumnya di Solo dan Surabaya, perlengkapan GKJ tidak mendukung aplikasi multimedia yang telah dipersiapkan. Tak ada cara lain, Boi dan Gerard akhirnya menitikberatkan pada kekuatan pesan.

"Menurut saya, surga itu masih ada di bawah telapak kaki ibu , ketika si wanita masih memegang nilai-nilai bundo kanduang. Kalau dia tidak menjunjung nilai-nilai yang ada, dia tidak membawa berkah itu. Jadi ya, dicabutlah suntiangnya," kelakar Boi. [SP/Kurniadi & Unggul Wirawan]


Last modified: 7/9/07